Tuesday, May 14, 2013

Sumber Data Mobilitas Penduduk dan Anailsis

Panda umumnya ada tiga sumber data mobmlitas penduduk yaitu: Sensus Penduduk, Registrasi Penduduk, dan Survei Penduduk. ‘Data kependudukan yang didapat dan hasil registrasi penduduk  kurang dapat dipercaya. Misalnya, penduduk yang meninggalkan desanya seharusnya melaporkan kepergiannya kepada kepala desa, tetapi karena letak kantor desa jauh dan tempat tinggal orang tersebut, ia tidak melaporkan kepergiannya. Di samping itu dengan membaiknya situasi keamanan, para petugas keamanan tidak pernah menanyakan surat keterangan jalan bagi yang bepergian, begitu pula bagi yang datang di suatu daerah.

Di antara ketiga sumber data mobilitas penduduk, data yang didapat dari Sensus Penduduk yang paling lengkap, hanya kelemahannya data yang didapat dari Sensus Penduduk hanya meliputi mobilitas penduduk yang bersifat permanen saja. Dari hasil registrasi penduduk dan survei penduduk diperoleh data 'baik dari mobilitas permanen dan nonpermanen, hanya kelemahannya tidak semua mobilitas penduduk dapat dicatat. Di bawah ini akan dibicarakan ketiga sumber data rnobilitas penduduk beserta permasalahannya.
1) Sensus Penduduk
Di Indonesia pelaksanaan sens us penduduk sebelum tahun 2000 dibagi mcnjadi dua yaitu sensus lengkap, dan sensus sampel  Sensus lengkap adalah pencacahan seluruh penduduk dengan responden kepala rumah tangga. Rcsponden ini memberikan informasi mengenai karakteristik demografi anggota rumah tangganya. Pertanyaan yang diajukan sangat sederhana. Sebagai contoh, pertanyaan yang diajukan pada sensus penduduk tahun 1990 untuk sensus lengkap adalah sebagai berikut.
a) Nama-nama anggota rumah tangga dari masing-masing dari mereka ditanyakan mengenai:
b) Hubungan dengan kepala rumah tangga
c) Umur (tahun)
d) Jenis Kelamin
e) Status perkawinan (BPS, 1989)

Untuk hal-hal yang spesifik, misalnya ketenagakeifjaan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, pertanian, dan mobilitas penduduk ditanyakan dalam sensus sampel. Pencacahan sampel yaitu pencacahan terhadap penduduk yang tinggal dalam rumah tangga terpillh. Untuk pencacahan sampel telah dipilih sejumlah wilyah, kemudian dari setiap wilyah tersebut dipilih sejumlah rumah tangga (BPS, 1989).

Tidak banyak informasi mengenai mobilitas penduduk yang dapat diperoleh dari Sensus Penduduk. Hal ini dapat dimengerti mengingat tujuan dan sensus adalah untuk mengumpulkan informasi yang bersifat umum mengenai keadaan sosial ekonomi dan demografi penduduk di suatu negara. T idak banyak tempat yang tersedia dalam kuesioner Pada tahun 2000 Pemerintah Indonesia hanya melaksanakan serisus lengkap.

Untuk menanyakan aspek tertentu secara mendalam. Walaupun ada kelemahan-kelemahan, menurut Sundrum (1976), data migrasi penduduk dari hasil sensus penduduk tahun 1971 merupakan data migrasi yang terbaik di Asia.

Batas wilayah (space) 'yang digunakan oleh Biro Pusat Statistik dalam penelitian mobilitas penduduk adalah propinsi dari batas waktu (line) ditetapkan enam bulan. Jadi seseorang dikatakan melakukan migrasi apabila orang tersebut melakukan gerak melintas batas propinsi menuju ke propinsi lain dan lamanya berada di propinsi tujuan adalan enam bulan atau lebih.

 Ada beberapa masalah dalam menginterpretasi volume migrasi penduduk dan hasil Sensus penduduk terutama dengan penggunaan prop insi sebagai batas wilayah (space). Propinsi-propinsi di Indonesia, bentuk, struktur dan luas wilayahnya berbeda-beda. Luas wilayah misahi ya, DKI Jakarta luasnya 660 kmz
dan- Irian Jaya 421.981 kmz. J umlah penduduknya tahun 1990 untuk DKJ Jakarta 8.212.515 orang dan Irian Jaya 1.628.087 orang. Bentuknya juga bervariasi, ada yang berserakan karena terdiri dari pulau-pulau seperti Maluku, ada yang memanjang seperti Sulawesi Utara, dan ada yang kompak seperti Jawa Barat, D.I Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Semua itu berpenganih pada volume migrasi penduduk, Sebagai contoh, DKI Jakarta seseorang yang bergerak 25 km dan pusat kota sudah melintasi batas DKI Jakarta, sebaliknya untuk propinsi Irian Jaya seseorang yang bepergian sejauh kurang lebih 600 km baru melintasi batas propinsi. Jadi jurnlah migrasi keluar dari DKI Jakarta lebih banyak dibandingkan dengan migrasi keluar dari propinsi Irian Jaya. Hal mi sesuai dengan penemuan Ravenstein tahun 1889 (Lee, 1995) yaitu umurnnya orang yang bepergian untuk memenuhi kebutuhannya memjlih jarak terdekat. Makin jauh suatu daerah makin sedikit migran yang menuju daerah tersebut (hukum distance-decay).

Selain itu, migran cenderung meninggalkan daerah asal dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Apabila diperhatikan, batasan waktu yang digunakan BPS enam bulan atau lebih maka migran yang meninggalkan daerah asal kurang dari enam bulan yang sebenamya lebih banyak teljadi, tidak dimonitor oleh petugas sensus.

Kelemahan ini mengakibatkan jaringan-jaringan migrasi penduduk yang dihasilkan dari sensus penduduk tidak mencakup seluruh jarring-jaring migrasi penduduk yang ada. Meskipun demikian hasil sensus penduduk tetap sangat informatif unmk melihat kecenderungan arah dan arus migrasi penduduk selama empat kali sensus penduduk di Indonesia.

Ada empat buah pertanyaan mengenai migrasi penduduk yang terdapat dalarn lcuisioner Sensus Penduduk 1971, 1980, dan 1990. Tiga dari empat macam pertanyaan tersebut sama, hanya susunannya yang berbeda. Untuk Sensus Penduduk tahun 2000 yang dilaksanakan dengan sensus lengkap saja hanya dua pertanyaan mengenai migrasi penduduk dengan batasan wilayah Kabupaten/Kotamadya dan Propinsi. Untuk jelasnya lihat table 1. Walaupun migrasi hanya bersurnber pada empat pertanyaan, tetapi kombinasi dan jawaban keempatnya daii data lain yang ditanyakan pada sensus Sampel dapat menghasilkan informasi mengenai migrasi penduduk yang cukup bervariasi. Berdasarkan kee mpat pertanyaan di atas, orang-orang yang dicacah dapat digolongkan menjadi dua, yaitu migran dan bukan migran.
Tabel 3.1. Pertanyaan Mengenai Migrasi Penduduk Pada Sensus Penduduk 1971 1980, 1 990, dan 2000