Thursday, June 13, 2013

KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL



 OLEH :DRS DJOKO PURWANTO, M.B.A

Komunikasi Verbal

Apa yang dimaksud dengan komunikasi verbal? Komunikasi verbal (verbal communications) merupakan salah satu bentuk komunikasi yang lazim digunakan untuk menyarnpaikan pesan-pesan bisnis kepada pihak Iain melalui tulisan maupun lisaan. Bentuk komunikasi ini memiliki struktur yang teratur dan terorganisasi dengan baik.
Komunikasi Verbal
Komunikasi Verbal
Dalam dunia bisnis dapat dijumpai berbagai macam contoh komunikasi verbal, misalnya:

Ø  Mernbuat dan mengirim surat teguran kepada nasabah yang menunggak pernbayarannya.
Ø  Membuat dan mengirim surat penawaran harga barang kepada pihak lain.
Ø  Membuat dan mengirirn surat konflrmasi barang kepada pelanggan.
Ø  Membuat dan mengirim Surat pemesanan barang (order) kepada pihak lain.
Ø  Membuat dan mengirim surat aduan (claim) kepada pihak lain.
Ø  Membuat dan mengirim surat permintaan barang kepada pihak lain.
Ø  Membuat dan mengirim surat penolakan kerja.
Ø  Membuat dan mengirim surat kontrak kerja kepada pihak lain.
Ø  Memberi informasi kepada pelanggan yang meminta informasi tentang produk-produk baru.
Ø  Berdiskusi dalam suatu tim kerja (teamwork).
Ø  Melakukan wawancara kerja dengan para pelamar kerja di suatu perusahaan.
Ø  Mengadakan briqfing dengan staf karyawan.
Ø  Mengadakan pelatihan manajemen kepada para manajer operasional/lini bawah.
Ø  Melakukan presentasi proposal pengembangan perusahaan di hadapan tim penguji.
Ø  Melakukan teleconférence dengan pihak Iain.

Dalam dunia bisnis, seseorang dapat saja mengekspresikan pc-:san-pesannya secara nonverbal (tidak rnelalui tulisan atau lisan). Namun, ekspresi secara nonverbal memiliki suatu keterbatasan dalarn mengkomunikasikan sesuatu kepada pihak lain. Sebagai contoh, jika seseorang ingin rnembahas suatu kejadian masa lalu, ide atau abstraksi, dia ridak bisa menggunakan ekspresi wajah atau bahasa tubuh untuk menerangkannya. Sebaliknya, dia harus menggunakan bahasa verbal, atau dengan kata lain dia perlu menyusun kata- kata dalam suatu pola yang memiliki arti arau rnakna, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. 

Melalui komunikasi lisan atau tulisan, cliharapkan orang dapat memahami apa yang disampaikan oleh pengirim pesan dengan balk. Penyampaian suatu pesan melalui tulisan dan lisan memiliki suatu harapan bahwa seseorang akan dapat membaca atau mendengar apa yang dikatakan pihak lain dengan baik dan benar.  

Komunikasi bisnis yang efektif sangat tergantung pada keterampilan seseorang dalarn mengirim maupun menerima pesan. Secara umum, untuk mmyampaikan pesan-pesan bisnis, seseorang dapat menggunakan tulisan dan iisan. Sedangkan untuk menerima pesan-pesan bisnis, seseorang dapat menggunakan pendengaran dan bacaan.

berbicara dan menulis

Pada umumnya, untuk mengirirnkan pesan-pesan bisnis, orang lebih senang berbicara ( speaking) daripada menulis (writing) suatu pesan. Alasannya, komunikasi lisan relatif lebih mudah, praktis (efisien), dan cepat dalam penyampaian pesan-pesan bisnis. Pada umumnya, bagi para pelaku bisnis, penyampaian pesan-pesan bisnis dengan rulisan relatif jarang dilakukan. Meskipun clemikian, bukan berarti bahwa komunikasi lewat tulisan tidak penting. Hal ini karena tidak semua hal bisa disampaikan secara lisan.

Pesan yang sangat penting dan kompleks, lebih tepat disampaikan dengan menggunakan tulisan. Adapun bentuk-bentuk komunikasi tertulis clalam dunia bisnis mencakup antara lain surat (macam-macam surat bisnis), memo, dan laporan

Mendengar dan Membaca

Meskipun buku ini lebih menekankan pada bentuk komunikasi tulisan daripada lisan, perlu diingat bahwa komunikasi yang efektif merupakan komunikasi dua arah. Orang-orang yang terlibat dalam dunia bisnis cenderung lebih suka memperoleh atau menclapatkan informasi daripada menyampaikan informasi. Untuk melakukan hal tersebut, mereka rnemerlukan keterampilan mendengar (listening) dan membaca (reading).

Sayangnya, kebanyakan orang dalam Clunia bisnis memiliki kemam-puan mendengar yang relatif lemah (kurang baik). Sebagai contoh sederhana, ketika seseorang mengikuti seminar bisnis, maka informasi yang dapat diserap dalam benak pikiran mungkin hanya setengah dari yang diucapkan (itupun masih lumayan). Beberapa hari kemudian, pesan yang masih dapat diingat mungkin tinggal seperernpatnya. Begitu pula halnya dengan mahasiswa. Tatkala mengikuti kuliah, pada hari pertama mungkin banyak hal yang didapatkan, dipahami, dan dimengerti. Namun, pada hari-hari berikutnya materi yang masih dapat diingat, dipahami, dan dimengerti sudah semakin banyak berkurang.

Dalam kaitannya dengan keterarnpilan membaca, seseorang sering mengalami kesulitan dalam mengambil pesan-pesan penting dari suatu bacaan. Hasil studi yang dilakukan oleh Irwin Ross pada tahun 1986 di majalah Fortune Amerika Serikat menunjukkan bahwa kira-kira 38 persen dari orang dewasa mengalami kesulitan memahami iklan di berbagai surat kabar, 14 persen kesulitan mengisi cek secara benar, 26 persen kesulitan dalam penjumlahan dan pengurangan dalam buku cek, dan sekitar 20 persen mengalami kesulitan membaca dengan baik.

Meskipun mendengar dan membaca adalah hal yang berbeda, keduanya mernerlukan pendekatan serupa. Langkah pertama adalah mencatat informasi yang berarti bahwa seseorang harus memusatkan perhatian pada pembicaraan yang tengah berlangsung atau bahan yang sedang dibacanya. Setelah dapat  menangkap inti pembicaraan atau bacaan, langkah selanjutnya adalah menafsirkan dan menilai informasi. Langkah ini merupakan bagian terpenting dari proses mendengar.

Sarnbil melakukan penyaringan suatu informasi, seseorang harus dapat memutuskan mana informasi yang penting dan mana yang tidak penting. Suatu pendekatan yang dapat dilakukan adalah mencari ide pokok (main idea) dan ide-ide pendukung ( supporting idea) secara rinci. jadi, untuk dapat menyerap informasi dengan baik seseorang harus dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang dibaca atau didengar. Pekerjaan tersebut tentu saja bukan tugas yang mudah, karena perlu suatu tindakan yang berulang-ulang, tidak sekali jadi sebagaimana “bim salabim”

2. Komunikasi Nonverbal

Bentuk komunikasi yang paling mendasar dalam komunikasi bisnis adalah komunikasi nonverbal (nonverbal communications). Menurut teori antropologi, sebelum manusia menggunakan kata-kata, manusia telah menggunakan gerakan-gerakan tubuh, bahasa tubuh (body language) sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berikut ini adalah beberapa contoh perilaku yang menunjukkan kornunikasi nonverbal:

Ø  Menggertakkan gigi untuk menunjukkan kemarahan (dalam bahasa jawa disebut getem-getem).
Ø  Mengerutkan dahi untuk rnenunjukkan seseorang sedang berpikir.
Ø  Gambar pria atau Wanita yang dipasang di pintu masuk toilet untuk menunjukkan kamar sesuai dengan jenis kelaminnya.
Ø  Berpangku tangan untuk menunjukkan seseorang sedang rnelamun.
Ø  Tersenyum dan berjabat tangan dengan orang lain untuk mewujudkan rasa senang, simpati, dan penghormatan.
Ø  Membuang muka untuk menunjukkan sikap tidak senang atau antipasti
Ø  Menganggukkan kepala untuk menunjukkan tanda setuju atau OK.
Ø  Berbicara clengan mengarnbil jarak agak menjauh untuk menunjukkan bahwa lawan bicaranya belum begitu dikenal dengan baik (using).
Ø  Menutup mulut dengan telapak tangan untuk menunjukkan suatu kebohongan.
Ø  Telapak tangan yang terbuka untuk menunjukkan kejujuran.
Ø  Tangan mengepal untuk menunjukkn penuh percaya diri.
Ø  Gerakan kaki dan tangan secara tidak teratur, bagaikan orang yang kedinginan untuk menunjukkan bahwa seseorang sedang grogi (nervous).
Ø  Seseorang mengirimkan seuntai bunga kepada teman yang meraih sukses bisnis untuk menunjukkan rasa simpati dan ucapan selamat atas kesuksesan yang diraih.
Ø  Asbak di atas meja tamu untuk menunjukkan bahwa tamu diperbolehkan merokok.
Ø  Simbol dilarang merokok yang terpasang di ruang tamu untuk menunjukkan bahwa tamu dilarang merokok.
Ø  Ruang tunggu sebuah bank disediakan tanpa tempat duduk untuk menunjukkan bahwa para nasabah akan dilayani dengan cepat tanpa harus menunggu lama.


Pendek kata, dalam komunikasi nonverbal orang dapat mengambil suatu kesimpulan tentang berbagai macam perasaan orang lain, balk rasa senang, benci, cinta, rindu dan berbagai macam perasaan lainnya. Lagi pula, komunikasi nonverbal berbeda dengan komunikasi verbal di dalam Cara yang cukup mendasar.

Pada umurnnya, bentuk komunikasi nonverbal memiliki sifat yang kurang rerstrukrur yang membuat komunikasi nonverbal sulir untuk dipelajari. Sebagai contoh, seseorang akan mengalami kesulitan bila menyuruh orang lain untuk mengambil buku kerja di suatu rempat yang terdapar beragam Warna maupun judul bukunya dengan menggunakan bahasa nonverbal. Di samping itu, proses belaj ar yang dialami seseorang untuk dapat melakukan perilaku nonverbal juga sulit clijelaskan. Tak seorang pun pernah mengajari bagaimana bayi menangis, tersenyum, atau tertawa. Dan tak seorang pun pernah belajar mengerutkan dahi, manakala jalan pikirannya buntu atau terganggu. Begitu halnya orang berteriak histeris, manakala seseorang sedang frustasi atau stres berat karena tak mampu menyelesaikan pekerjaan berat tepat pada Waktunya.

Ada beberapa jenis komunikasi nonverbal lainnya, seperti arti suatu warna dan gerak-isyarat tertentu, yang akan bervariasi dari waktu ke waktu. Warna warna cerah yang ada di ruang-ruang kantor, warna pakaian seragam kerja (uniform) para karyawan yang berbeda antardepartemen (bagian) yang satu dengan departemen (bagian) lainnya dalam suatu perusahaan. Di samping itu, bahasa isyarar yang sering ditunjukkan oleh para karyawan yang sedang menyelesaikan pekerjaan di kantor, juga termasuk salah satu bentuk komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga lebih bersifat spontan dibandingkan dengan kornunikasi verbal clalam hal penyampaian suatu pesan. Pada umumnya, sebelum menyampaikan sesuatu, seseorang sudah memiliki suatu rencana tentang apa yang ingin dikatakan. Misalnya, ketika seseorang mengatakan “Tolong, bukakan pintu itu,” rnaka pada saat itu seseorang dengan sadar telah mempunyai tujuan atau maksud tertentu. Tetapi, ketika seseorang berkomuni- kasi secara nonverbal, ia seringkali rnelakukannya secara ridak sadar. Contoh yang paling sederhana adalah mengerutkan clahi ketika sedang memikirkan sesuatu, ekspresi wajah yang memerah karena ingin meluapkan kernarahan, mondar-mandir tanpa tujuan yang pasti karena pikiran sedang kacau, dan sejenisnya. Hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang bersifat alami (mztunzb dan tak pernah clirencanakan sebelumnya. Ekspresi seseorang baik senang dan sedih, juga termasuk ke dalam komunikasi nonverbal. 

Komunikasi bisnis
Kumunikasi bisnis





No comments:

Post a Comment